perihal macrotweeting

12 Februari 2022, 1.22 AM Sesuatu mendorongku untuk mulai kembali mengulik cat air. Lalu menggambar adegan dari performans Ambangan yang kulakukan bersama beberapa kawan dari 69 Performance Club pada Maret 2020 silam. Aku mengirimkan gambar tersebut ke mereka, dan kurasa hal itu membangkitkan perasaan-perasaan serupa dalam mereka, “sesuatu-sesuatu” yang mendorong munculnya “sesuatu-sesuatu” yang lain. Mungkin …

catatan sebelum kembali bekerja di hari raya

perihal Bumi Manusia Kemarin pagi, aku bersama ibuku dan adikku mendapatkan kesempatan menonton Bumi Manusia terlebih dahulu di sebuah acara yang diselenggarakan Keluarga Kemahasiswaan UGM. Ibuku—bukan alumni UGM—mendapat tiket dari temannya—bukan alumni UGM juga—yang memborong 20 tiket. Rombongan kami, berduapuluh orang om-om dan tante-tante yang ribut, seperti menyelinap ke dalam pensi sekolah lain. Saat mendengar …

catatan setelah hari raya

“Dini pulang kapan?” tanya Bapak, beberapa hari yang lalu. “Ini lagi pulang.” “Berhenti ngekos gitu, kapan?” “Oktober.” Semester depan, setelah festival film yang kuadakan bersama teman-teman yang lain selesai, aku akan berhenti ngekos dan kembali pindah ke rumah. Sekilas, bukan lompatan iman yang terlalu jauh. Rumahku di Jakarta Pusat, sebenarnya masih memungkinkan kalau pulang-pergi ke …

Sejarah panjang kemalasan saya, dan usaha menyalahkan teknologi atas hal tersebut

Aku mulai menulis tulisan ini minggu lalu setelah mengerjakan artikel mengenai media sosial berkenaan dengan pemikiran McLuhan dan Postman selama nyaris delapan jam berturut-turut. Aku langsung “merasa” telah mencapai kesadaran medium penuh. Sembari mengerjakan artikel, aku merasa terusik setiap kali mendapati diri tengah membuka Instagram untuk hal-hal remeh seperti menjawab komentar. Lebih parah lagi ketika …

Membedah Komodifikasi Rasial dalam Industri Perfilman Amerika Kontemporer

Abstrak Dewasa ini, film-film hasil produksi Hollywood bertema minoritas gender, rasial, etnik, maupun orientasi seksual mulai marak di layar lebar. Mengingat hakikat film sebagai refleksi dari realita setiap zaman di mana ia berada, kesimpulan yang biasa muncul adalah nilai-nilai millenial yang lebih progresif dan berorientasi kepada keberagaman turut mempengaruhi nilai yang dipegang para pelaku film …

mother!: kekacauan yang tak butuh penjelasan

Baru kelar nonton mother! kemaren bareng adek saya, dan kami berdua merasa pusing setelahnya. Sepusing itu sampai saya harus kembali menulis (sambil nulis aja aing masih pusing). Akhirnya! Akhir tahun ini adalah waktu luang pertama saya sejak semester ini dimulai. Kalo gak pusing saya gak bakal nulis, dan melakukan satu hal yang tak sempat saya …

Perasaan yang Datang Ketika Liburan Terlalu Lama #1

Seusai menonton Apa Jang Kau Tjari, Palupi di Kinosaurus.  “Yang di luar dijaga agar jangan sampai masuk, dan yang di dalam dijaga agar jangan sampai keluar. Pesta ini berlangsung hingga besok.” Shot terakhir, Palupi menggedor-gedor pagar, putus asa. Siapa sangka perjalanan mencari kebahagiaan bisa memerangkap seseorang sedemikian rupa? Aku tidak sempat menulis resensi lengkap dari film …

Okja: Menguak Konspirasi yang Akan Mengejutkan Anda! Selengkapnya Di

Sulit untuk menjelaskan premis Okja tanpa membuatnya terdengar seperti film yang sama sekali berbeda, tapi mari kita coba (lagi). Sebuah perusahaan yang dikepalai oleh Tilda Swinton mengklaim mereka menemukan jenis hewan baru, sesosok babi super ramah lingkungan. Mereka mengirim sejumlah babi tersebut ke peternak di seluruh dunia, dan menciptakan sayembara bagi peternak yang bisa membesarkan …

Pak Ahok, Tolong Ajarin Saya Kung-Fu!

Sesungguhnya gue lagi bete. Sudah semingguan, mungkin lebih, berlangsungnya kebetean ini. Meskipun sulit, gue akan berusaha menjelaskan penyebabnya dalam tulisan ini. Mungkin tulisan ini ujung-ujungnya hanya jadi curcol semata karena gak menyelesaikan kepelikan apa pun yang sedang dihadapi bangsa kita. Gue cuma pengen berbagi apa yang gue rasakan sekarang, kegelisahan yang mendalam di hari kesaktian …

Perihal Keterasingan

Sejak SD dalam pelajaran IPS siswa-siswa seantero negeri selalu didoktrin bahwa manusia adalah makhluk sosial. Buku-buku cetak tersebut selalu mengagungkan kerja bakti, gotong-royong, permainan-permainan tradisional yang membutuhkan kontak langsung dengan tetangga-tetangga sebaya, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut memang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, tapi apakah hidup kita selalu bermasyarakat? Apakah kita tidak punya momen-momen privat ketika kita …